Pengaruh Eropa dalam Pemakaian Batik Masyarakat Surakarta sebelum tahun 1900

Sebelum tahun 1950, bangsa Eropa sudah memulai ekspansi dengan mengimpor bahan kain dari India ke Jawa untuk menunjukkan simbol kekuasaan bangsa Eropa di Jawa lewat cara berpakaian. Dengan adanya ekspansi ini membuat trend fashion masyarakat Jawa juga mengalami perubahan.

Pengaruh berpakaian lelaki Barat juga dirasa ikut mempengaruhi lelaki Jawa pada umumnya seperti celana panjang, jas dan sepatu. Terlebih kalangan elit yang dekat dengan kehidupan orang eropa. Sedangkan pada masyarakat biasa lebih banyak masih memakai budaya lama dalam hal berpakaian.

Beberapa tahun kemudian, kaum perempuan juga mulai menerima pengaruh Barat pada cara mereka berpakaian. Contohnya, kombinasi antara batik dan kebaya klasik eropa. Meskipun pada dasarnya pemakaian batik pada saat itu sudah menjadi pakaian utama masyarakat Jawa sekitar abad ke XIX.

Sejarah pakaian yang sekarang dikenal sebagai pakaian daerah Surakarta baik laki-laki maupun perempuan berkaiatan dengan keberadaan budaya keraton Surakarta. Keraton sebagai pusat institusi dan tata pemerintahan, mempunyai aturan-aturan khusus yang berkaitan dengan pakaian. Apabila dilihat secara seksama pakaian atau gaya busana Surakarta dapat dibedakan menurut kebutuhan, tingkat umur, dan status pemakainya.

 Perbedaan keturunan ikut memainkan peran untuk terciptanya ketegasan batasan penggunaan pakaian, baik untuk kegiatan sehari-hari atau dalam kegiatan yang bersifat resmi. Model dan jenis pakaian yang dikenakan oleh mereka yang tinggal di keraton atau yang mempunyai kaitan tugas dengan keraton antara satu orang dengan lainnya berbeda, sesuai dengan tugas, waktu pakai dan jabatan.

Pergeseran makna simbolis yang terjadi pada pemakaian busana di Jawa khususnya di Surakarta terjadi semenjak kedatangan VOC yang menerapkan larangan-larangan pemakaian busana yang sama bagi setiap penduduk dengan maksud sebagai bentuk kontrol sosial VOC terhadap masyarakat jajahan. Kostum Jawa sendiri pada masa VOC berupa kain persegi panjang tidak dipotong yang menutupi tubuh bagian bawah, beragam kain lilit penutup dada dan pinggul, serta kain penutup bahu.

Kostum itu dipakai oleh pria dan perempuan, dan pada dasarnya sama untuk semua kelas. Status seseorang ditunjukkan melalui kualitas kain yang dipakai, desain-desain dan perhiasan. Selop digunakan oleh anggota-anggota istana. Selama masa VOC, para pria dan perempuan istana mulai memakai kain batik sebagai bahan untuk pakaian.

 Lebih jauh, batik kini dikenakan para pria ningrat dalam dua mode baru yaitu kain dodot dan celana yang terbuat dari sutra yang dibordir atau dihias dengan jalinan pita di bagian pergelangan kaki, sedangkan wanita hanya memiliki mode dodot dan pemakaian baju kebaya. Desain-desain batik khusus digunakan oleh kaum ningrat beserta badi dalem mereka, dan pemakaiannya ditentukan oleh aturan-aturan khusus.

Peraturan-peraturan tentang pemakaian busana telah diatur semenjak Susuhunan Pakubuwana IV tahun 1788-1820. Peraturan ini berupa larangan pemakaian busana tertentu bagi para keluarga raja, pejabat kerajaan dan rakyat kecil di wilayah keraton Kesunanan Surakarta. Larangan-larangan tersebut berupa:

Larangan Pemakaian Kain

Larangan pemakaian kain yang dibuat oleh Pakubuwanan IV pada tahun 1788-1820 adalah kain batik batik sawat, parang rusak, cemukiran yang memakai talacap modang, udan riris, dan tumpal. Adapaun yang disebut batik tumpal, di tengah putih pinggir batik, kain kakembangan bercorak udaraga (coraknya bermacam-macam) merah di tengah, pinggirnya bercorak hijau kuning, bangun tulak di tengah hitam pinggir putih, lenga teleng di tengah putih pinggir hitam, dara getem merah di tengah pinggir kiri kanan ungu, batik cemukiran yang ber-talacap lulungan atau bermotif bunga yang diperkenankan memakai adalah patih, keluarga raja, dan wadana. Sedangkan batik sawat katandhan sembagen ber-elar (sayap) semua abdi dalem boleh memakainya.

Larangan Pemakaian Keris

Keris (dhuwung) merupakan aksesoris dalam berpakaian bagi para priyayi dan abdi dalem raja maupun rakyat Surakarta pada umumnya. Larangan pemakaian keris yang dikeluarkan oleh Pakubuwana IV antara lain adalah keris dengan gagang tunggak semi, pendhok parijatha, pendhok tatahan sawat, kemalon abang, warangka pupulasan dhasar kayu, sedangkan keris dengan gagang tunggak semi itu, yang boleh memakai hanya abdi dalem mantri dan abdi dalem tamtama.

Keris dengan gagang kawandasa yang diperkenankan memakai hanya lurah dan bekel, sedangkan paneket hanya diperuntukkan bagi abdi dalem Gedhong Kapedhak. Keris dengan gagang tunggak semi yang bubunton, semua abdi dalem baik mantri dan lainnya tidak diperbolehkan memakainya.

Larangan Pemakaian Payung

Payung merupakan aksesoris dalam berbusana yang menunjukkan sebuah status sosial seseorang. Larangan yang dikeluarkan oleh Paku Buwana IV dalam hal pemakaian payung hanya melarang penggunaan payung di sekitar wilayah kraton. Larangan tersebut berupa tidak bolehnya seseorang yang berpayung besar atau sejenisnya membuka payung di kraton. Kecuali keluarga raja yang bergelar pangeran boleh membuka payung di utara ringin kurung. Masyarakat lainnya hanya sampai pada galedhegan alun-alun.

Kedatangan bangsa Eropa memberikan pengaruh tersendiri dalam pemakaian batik di Surakarta. Termasuk ketika industri batik juga mulai dikembangkan oleh pengaruh revolusi industri di eropa. Dengan berbagai aspek yang dibawa dari Eropa, masyarakat Indonesia khususnya Surakarta berkembang menuju dunia modern.

Batik sudah menjadi komoditas tersendiri bagi industri fashion yang berkembang di Surakarta. Meskipun terdapat beberapa peraturan tentang penggunaan motif batik untuk kalangan tertentu, batik sudah menjadi pakaian dasar masyarakat sejak sebelum kedatangan bangsa Eropa sampai sekarang.

Terima Kasih Sudah Membaca dan Berkunjung

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *