Motif Batik yang Dipakai oleh Karakter Wayang Nakula dan Sadewa

Dalam pewayangan ratusan karakter dan tokoh diciptakan untuk menunjukkan bahwa karakter manusia itu memiliki perbedaan. Dari mulai raksasa, buto, ksatria, pandita, bahkan hewan juga diwujudkan dalam wayang kulit purwa. Kreatifitas para dalang melakonkan suatu cerita begitu rapi dan lengkap, diusahakan sesuai dengan cerita kehidupan manusia.

Meskipun diciptakan dengan karakter kembar, kedua wayang punya sifat dan karakter yang berbeda. Seperti Nakula dan Sadewa, anak keturunan pandawa namun berbeda ibu. Kembar ini merupakan raja di negeri Sawojajar.

Keduanya memang berkarakter Pandawa, sang Nakula merupakan sosok yang pendiam dan pemikir setiap hal yang dikerjakannya selalu dipahami, ditelaah, dimaknai secara mendalam dan akan menyampaikan hasil pemikirannya ketika dimintai pendapat saja, Berbeda dengan Sadewa yang cerdas, lihai dalam berbicara maupun berpendapat dan merupakan komandan yang baik dalam meningkatkan semangat senopati serta prajurit di medan laga.

Dalam pewayangan, penggunaan kain batik sebagai pelengkap busana merupakan pilihan. Bagaimana sosok karakter tersebut mampu membuat jalan cerita menjadi runtut dan pesan yang akan disampaikan kepada orang lain dapat diterima.

Salah satu yang kami temui adalah pemakaian motif batik parang klithik. Motif parang sendiri lazim dipakai oleh ksatria-ksatria yang tangguh dan kebanyakan merupakan orang sakti. Tergantung dari motif parang yang dipakainya, karena setiap motif parang juga memiliki makna yang berbeda. Bisa kalian baca di sini.

Sementara menjelaskan motif parang klithik, Motif ini adalah pola Parang dengan stilasi motif yang lebih halus. Ukuranya pun lebih kecil, dan mengandung citra feminim. Parang jenis ini melambangkan kelemah – lembutan, perilaku halus dan bijaksana. Biasanya dikenakan kalangan putra dan putri istana.

Motif ini memiliki jajaran motif parang yang cenderung lebih kecil. Tidak sebesar parang barong ataupun variasi motif yang lain. Yang membuat motif parang ini terlihat rapi karena kesejajaran motifnya. Meskipun tanpan paduan motif yang lain, salah satu motif yang paling mudah dibuat ini menjadi pilihan yang bagus untuk dipakai dan membuat kreasi pakaian baru.

Sosok kembar Nakula dan Sadewa menunjukkan bahwa dalam perbedaan bukan bertujuan untuk membedakan. Tetapi bagaimana cara kita menyatukan perbedaan itu menjadi pelengkap, saling melengkapi satu dengan yang lain untuk mendapatkan ketentraman hidup dan saling berguna bagi yang lain.

Terima Kasih Sudah Berkunjung dan Membaca

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Wayang Kulit and tagged , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *