Ketika Membuat Pola Batik Tulis Itu Tidak Mudah

Kulonuwun, sugeng siang, selamat siang. Pripun kabaripun? Mugi-mugi tansah kaparingan sehat seger waras sederek sedoyo. Puji syukur, sumangga kita aturaken dhumateng Gusti Allah ingkang Maha Welas Asih. Awit saking rahmatipun kita sedaya tansah pinaringan kawilujengan, saengga saged makempal wonten papan menika, Indonesian Batik.

Sulit juga berbahasa Jawa ternyata, hehehe. Tetapi tidak sesulit melupakan mantan yang telah berlalu nampaknya. Ah, sudahlah, tetap semangat menjalani hari seperti motif batik Sekar Jagad, masih banyak Sekar yang mekar di dunia, jadilah lelananging jagad.

Berbicara motif Sekar Jagad, salah satu motif yang sulit dan rumit untuk dibuat dengan metode batik tulis. Kami membayangkan dulu bagaimana penemu motif batik tersebut mendapat wangsit untuk membuatnya. Seperti membuat skripsi yang susah temanya untuk membuat dosen terkesan.

Pembuatan batik tulis pasti ada proses pembuatan pola, baik itu pola yang sudah ada maupun kreasi kontemporer yang baru. Berbeda dengan sesepuh atau orang yang sudah hafal dengan sebuah motif batik, langsung dibatik tanpa menggunakan pola, istilahnya sudah maestro.

b

Apabila kita melihat lebih dekat pembuatan sebuah pola motif batik, mungkin sebagian besar dari kita akan menyerah di tengah jalan. Bayangkan kita membuat desain sebuah logo atau gambar kecil, tetapi gambar itu diulang-ulang sampai ukuran kain batik sekitar 2,5 meter x 1 meter. Mungkin dengan variasi yang berbeda, dengan campuran motif.

Disamping itu membuat pola batik harus teliti, harus rapi, harus memiliki makna, bukan hanya asal-asalan. Mungkin sekarang kita lebih dimudahkan dengan mendesain lewat laptop atau komputer desktop menggunakan Corel atau Illustrator. Tetapi bahkan dengan cara itu, kami sudah kesulitan untuk membuatnya. Apalagi dengan tulisan tangan yang membutuhkan bakat menggambar tersendiri.

Dan membuat pola itu tidak semahal harga batiknya, meskipun tergantung kualitas batiknya. Dari seorang teman, kami mendapatkan info, untuk membuat sebuah pola batik kontemporer hanya dihargai Rp 10.000,-. Padahal itu adalah sebuah calon mahakarya batik tulis, tidak main-main, hanya Rp 10.000,-. Dibanding dengan menjadi kuli tandur di sawah, lebih mahal harga tenaga seorang kuli.

c

Padahal berbicara tentang sebuah pola, itu adalah hak cipta dari pembuat pola. Kreatifitas dan inovasi seorang pembuat pola yang kadang harus berpikir keras bagaimana membuatnya terlihat indah. Apabila melihat ke zaman dulu, seorang harus mencari inspirasi dengan bertapa, dengan puasa, dengan tirakat, dan sebagainya. Dan bukan tidak mungkin lebih dari satu batik yang dibuat dari pola motif tersebut.

Untuk itu, menghargai sebuah karya batik bukan hanya memakainya, tetapi bagaimana kita bisa melihat lebih dekat, lebih dalam bagaimana perjuangan membuat batik dari awal sampai akhir untuk membuat sebuah mahakarya yang menjadi warisan budaya negeri kita tercinta Indonesia.

Semoga, kita adalah generasi yang pandai menghargai sebuah karya seni. Menghargai berbagai warisan budaya yang telah diwariskan kepada kita.

Semoga kita menjadi manusia yang benar-benar memiliki cipta, rasa, dan karsa.

Untuk hidup yang lebih baik, untuk Indonesia yang lebih berbudaya.

Terima Kasih Sudah Berkunjung dan Membaca

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *