Motif Batik Desa Girilayu Suryo Menggolo, Mengintip Matahari dari Dinginnya Lereng Lawu

Batik Desa Girilayu memang belum terkenal seperti Solo, Pekalongan, maupun Lasem. Tetapi dari sini kami melihat sisi lain dunia batik yang megah di dunia, tetapi redup di sini, di lereng Lawu. Tempat kami melihat matahari mengintip dari puncak Gunung Lawu.

Dalam kehidupan budaya Indonesia, berbagai ragam dan cerita di balik batik sudah banyak kita temukan. Salah satu yang kita temukan disini adalah batik motif Suryo Menggolo yang berarti matahari yang memimpin prajurit. Yang memiliki maksud bahwa dalam setiap kehidupan manusia kita adalah pemimpin bagi kehidupan kita sendiri.

Terlihat gagah dengan corak matahari berwarna kuning bersinar oranye diisi dengan cecekan kecil. Di dalam sebuah frame motif daun di sekitarnya. Di samping motif matahari ini dihiasi dengan motif semenan di satu sisi dan sisi yang lain adalah motif kawung yang berjejer rapi.

3

Batik tersebut menggunakan pewarnaan sogan alam sehingga akan semakin bagus semakin lama di cuci. Sudah banyak cara untuk melakukan perawatan batik tulis, agar tidak luntur dan tidak merubah keaslian warnanya. Dengan warna semi kontemporer dan latar yang hitam menambah kesan mewah batik tersebut.

Di Desa Girilayu, banyak sekali motif yang bisa kita temukan baik itu klasik maupun kontemporer, harga yang ditawarkan juga bervariasi tergantung tingkat kesulitan motif batik tersebut. Di Desa Batik Girilayu sebagian besar adalah perajin batik tulis yang sudah turun temurun membatik.

Batik Motif ini termasuk motif batik kontemporer, namun tetap tidak kehilangan corak klasiknya yang khas dan rapi. Dengan motif matahari di tengah menjelaskan identitas tersendiri batik tersebut. Di antara sejajarnya motif kawung dan semenan.

Filosofinya adalah bahwa manusia harus tetap berusaha untuk menjadi lebih baik di setiap paginya. Mencari nafkah untuk kesejahteraan hidup, berjuang untuk mendapatkan yang di cita-citakan. Karena kita tidak akan tahu apakah besok masih ada matahari yang mengintip dari ujung Gunung lawu.

4

Terlebih lagi bahwa setiap manusia harus memiliki filosofi seorang manusia itu sendiri. Jika Anda adalah seorang pemimpin, memimpinlah dengan bijaksana, dengan budi pekerti yang luhur dan tidak merendahkan orang lain. Apabila Anda adalah seorang biasa, hendaklah menjadi manusia yang mampu menjadi teladan bagi yang lain, dengan makna bahwa kita harus taat kepada peraturan.

Kehidupan harus sejajar seperti motif semenan, rapi dan sejajar dengan jalan hidup kita, tidak perlu berlebihan, tidak perlu merasa kurang dengan apa yang kita miliki. Bersyukurlah kepada Yang Maha Esa yang telah memberikan nafas kepada kita gratis tanpa perlu membayar tagihan.

Terima kasih Sudah Berkunjung dan Membaca

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *