Gadis Manis Pelukis Batik, Jantungku Padam di Langit Jingga Kotamu [Bagian II End]

8 Agustus 1949

Darah mengalir di depanku, tetapi aku tidak merasakan sakit. Aku pegang pelipisku, tidak berdarah. Lalu aku melihat siluet seorang lelaki yang tidak terlalu tinggi, bertubuh gempal, sepertinya aku mengenalinya. Tetapi sedetik kemudian aku jatuh, pingsan, tubuhku tidak mampu menahan lelah dan pikiranku. Tapi Aku belum mau mati.

Suara adzan memekik di telingaku, adzan subuh aku rasa, badanku gemetar, menggigil tidak beraturan. Aku terbangun. Aku melihat Dewa dan beberapa orang temanku, aku hitung tujuh. Kurang satu. Di sekitarku mereka tertunduk. Sialan.

“dimana Surip?” tanyaku

“mati, diberondong bren sama Said” jawab Agus singkat

“penghianat harus mati..” tegas Said lagi

Aku belum paham maksud mereka, yang jelas, semalam, kepalaku masih terasa berat. Setelah mereka menjelaskan bahwa Surip adalah antek kompeni yang berada dalam 106. Kami pun tidak tahu, hanya Said yang curiga. Surip mengincarku untuk mempermudah pembantaian 106 yang menyulitkan Belanda selama ini.

Dan benar, selama semalaman aku diikuti oleh Surip, dan yang menodongku semalam adalah penghianat itu. Lagi-lagi aku berutang nyawa pada Said. Dia selalu ada di depanku, selalu menjagaku ketika aku benar-benar tidak jelas.

Cuma sekarang aku masih tidak perduli, aku pun masih bertanya nama Ajeng kepada mereka. Aku masih belum mengetahui bagaimana keadaannya. Batinku membumbung tinggi memikirkannya, apa yang terjadi dengannya.

“Jun kena demam, digigit aides –aides itu kelihatannya” Dewa bicara

“biarkan dia disini, Sapto yang jaga, Aku, Kau, dan yang lain cari Ajeng, lima menit lagi berangkat” Said memberikan komando

“tidak, Aku ikut kalian, aku mau cari Ajeng” aku berontak

“Jangan membantah, Kau mau kita mati ngurusin Kau yang jalan saja tak kuat?” Said dengan muka serius

“Sial.. Aku ikut”

“Bilang sekali lagi Kau aku hajar sama Sten” sambil mengacungkan Sten ke depan mukaku

Aku mengalah. Mereka pergi berlima, Aku dan sapto masih di rumah seorang lelaki setengah baya yang sibuk lalu lalang mengurusi para pejuang yang terluka.

Sapto membawakanku kopi hitam, sedikit gula, kesukaanku. Entahlah, sepertinya 106 sudah menjadi keluargaku sendiri ketika kami mampu saling melindungi dan bertahan kemudian berjuang bersama.

Pertempuran berlangsung hingga tengah malam, TNI membantu serangan itu dengan memasang berbagai rintangan di jalan-jalan di sekitar daerah Pasar Kembang. Namun Belanda mencium rencana itu, kemudian menangkapi orang-orang yang berada di sekitarnya. Terdapat 26 orang, termasuk wanita dan anak-anak yang berhasil ditangkap pihak Belanda, 24 di antaranya dihabisi. Ke 24 orang itu terdiri dari 10 orang laki-laki, termasuk seorang anggota TNI/TP, 6 orang wanita, dan 8 anak-anak.

Aku mulai khawatir dengan kelima saudaraku itu, aku harap mereka tidak mendapatkan kesulitan hanya untuk membuatku tenang. Menurut Sapto Belanda menurunkan 2 pesawat jenis Bomber dan 4 pesawat P-51 yang seperti nyamuk beterbangan di atas rumah singgah kami.

 Pada saat itulah seluruh pasukan dari SWK (Sub Wehrkreis) 100 sampai 105 mulai dikerahkan untuk membantu serangan hari pertama dengan sasaran seluruh kota Solo dan Letnan Kolonel Slamet Riyadi mulai memegang komando mengantikan Mayor Akhmadi.

Tambahan pasukan ini semakin memperkuat serangan pasukan umum SWK 106 yang intinya dari DEN TP Brigade XVII. Akibatnya pasukan Belanda semakin terdesak karena pasukan dari Brigade V menyekat kekuatan lawan dan menghambat bantuan lawan di luar kota Solo. Konvoi Belanda dari Semarang bahkan tidak dapat memasuki kota Solo karena dihambat oleh pasukan TNI di Salatigakekuatan lawan dan menghambat bantuan lawan di luar kota Solo. Konvoi Belanda dari Semarang bahkan tidak dapat memasuki kota Solo karena dihambat oleh pasukan TNI di Salatiga.

“Sap, Aku mau keluar, mau berjuang, Kau mau ikut atau melamun disini?” Aku bertanya kepada Sapto

“Ikut ndan, tangan saya gatal pengen bunuh penjajah” jawabnya mantab

“ambil senjata, kita berburu” sahutku

Kami berdua mulai menyisir perbatasan Sukoharjo. Tubuhku sepertinya tidak beres, batuk terus menerus menyesakkan dada. Belum lagi aku belum mendapatkan kabar apapun. Paling tidak aku ingin melihatnya baik-baik saja.

Pertempuran sampai malam juga terjadi hari ini, Aku dan Sapto bergabung dengan beberapa anggota 105 membantai kompeni yang membabi buta menyerang penduduk sipil.

Nafasku semakin berat, berulang kali aku harus batuk yang mengganggu konsentrasiku. Tentara belanda juga terlihat semakin berkurang dan mundur ke markas besar mereka. Memberikan kami waktu untuk sedikit beristirahat.

Aku mencari buku yang aku biasa menulis di sana, tidak ketemu. Mungkin terjatuh ketika perang tadi. Aku tidak terlalu memikirkannya, aku masih memikirkan kelima orang yang pergi entah kemana. Aku terbiasa dengan mereka, sehingga sekarang terasa kosong.

Bara api untuk menghangatkan diri, Aku dan Sapto masih bertahan. Memisahkan diri dari 105 karena takut merepotkan mereka nantinya. Ditambah kondisiku yang semakin tidak menentu.

“Sapto, kau pernah jatuh cinta?” aku membuka pembicaraan

“Belum ndan, nanti kalau Londo sudah pergi ndan” jawabnya mantab

“Kalau kita mati sebelum Londo pergi?” tanyaku lagi

“Nanti bisa jatuh cinta di surga ndan, Ajeng tidak akan kenapa-kenapa ndan, dia perempuan kuat.” Dia melanjutkan

Aku terdiam, mungkin kata-kata Sapto tadi memang benar, Ajeng perempuan tangguh, lebih tangguh daripada Aku. Sejenak aku bisa tenang. Memikirkan apa yang harus kami lakukan untuk tetap berjuang di garis depan. Kami tahu suatu saat malaikat maut akan menjemput kami.

Aku siapkan puisi dalam secarik kertas untuk mengenang mimpi yang tidak bisa kami beli bahkan dengan nyawa kami.

Hujan menjadikan ada yang tiada

Jatuh bergemuruh jatuh berserakan

Berantakan

Daun akan layu

Rindu hanya akan bisa membisu

Berhenti mengalun, berhenti bernyanyi

Sepi

Serasa sudah cukup berjuang bersama langit

Kadang hilang, kadang terang, kadang mendung

Bosan

Ah, peduli apa dengan warna

Aku tidak butuh jingga harapan

Aku adalah hitam dan tidak ada yang salah dengan itu

[8 Agustus 1949]

9 Agustus 1949

Sudah 2 hari kami berperang, sebelum gencatan senjata. Kami bermain dengan nyawa kami untuk mendapatkan sebuah pengakuan bahwa Indonesia telah merdeka. Kami memiliki kebebasan untuk jatuh cinta lagi. Aku bebas bertemu Ajeng kapan saja.

Sementara itu Aku dengar bahwa pasukanku 106 Arjuna masih berada di sekitar Jebres untuk mengamankan area itu. Aku dan Sapto segera menyusul mereka, selain rindu kepada Ajeng, aku lebih rindu kepada mereka. Aku tidak mau mati sebelum bertemu mereka. Kami berdua mulai melewati Balapan, kemudian langsung menuju Jebres.

Tidak banyak pertempuran yang kami lewati selama perjalanan, kami terus fokus kepada saudara kami. Meskipun sesak di dadaku semakin sakit dan tidak memberikanku ruang untuk sekedar mengambil nafas lebih dalam. Aku takut. Dicegat gerombolan malaikat maut. Aku belum bertemu Ajeng.

Rentetan tembakan dari bren dan sten yang masih menggema menjelang siang mulai terdengar. Aku mulai bisa mendengar sayup-sayup suara yang biasa aku kenal, suara Said. Lantang dan keras. Tetapi mereka terlihat terpojok, dikepung sekitar 12 tentara belanda dari depan dan dari samping. Amunisi mereka terlihat tinggal sedikit.

“Sapto, kamu siap..? tanyaku lirih

“Siap ndan…” sambil mengeluarkan klewangnya

Kami mulai berlari membantai satu demi satu pasukan kompeni yang ada, sehingga mereka menjadi kocar kacir tidak karuan. Sekarang posisi berbalik menjadi 7 dibanding 2. Dua orang pasukan Belanda itu kemudian berlari mundur. Setelah memastikan keadaan aman kami mulai berkumpul.

Tiba-tiba kepalaku ditempeleng Said, keras, berdenging sampai ke telingaku. Tetapi, sedetik kemudian merangkulku.

Kalau Kau masih nekat, aku tempeleng kepala Kau sekali lagi..” bisik Said

“aku masih punya utang nyawa sama Kau, jangan sampai kau mati sendiri” jawabku lirih

“Kau rindu kami atau Ajeng, ndan?” Dewa mendekatiku

“Entahlah,…” jawabku singkat

“Ada kabar baik dan ada kabar buruk Jun” Said melanjutkan bicaranya

“Kabar baik dulu, biar ngga nyesel kalau aku nanti kena serangan jantung..” jawabku

“Ajeng masih hidup” Said tersenyum kecut

Jawaban itu serasa membuka kembali setiap nafas yang sesak di paru-paruku. Jawaban yang sudah aku tunggu beberapa hari ini. Aku sedikit lega dan terus saja menatap mereka.

“Sekarang dimana?” aku bertanya

“Di perbatasan utara, tapi Kau tak bisa kesana” Said menjawab

“kenapa?” tanyaku bingung

“Kau belum dengar kabar buruknya…kita istirahat dulu di gudang tua” lanjut Said

Sambil meneruskan perjalanan, aku tidak berhenti bertanya, apa kabar buruknya, selain hanya Belanda semakin membabi-buta dalam membalas serangan, dibantu oleh pasukan KST (Korps Spesiale Troepen), menembak setiap lelaki yang dijumpainya. Dalam peristiwa ini, seorang komandan regu Seksi I Kompi I, Sahir gugur di daerah pertempuran Panularan.

Ketika telah sampai di gudang, kami mulai mengobati luka masing-masing, kaki Kasan yang diserempet peluru dan beberapa lecet akibat terlalu lama bergerilya. Lelah kami saat itu serasa menjadi lauk makan bubur nasi hari kemaren yang masih tersisa.

“Kau mau tahu sekarang apa nanti Jun..?” Said membuka pembicaraan

“sekarang, tak tahu Kau besok masih hidup atau tidak..” jawabku

“Ajeng mau menikah…” sembari menyerahkan kembali buku puisiku

“…..”

Seperti menikam ke dalam jantung kata itu. Aku tidak mengerti bagaimana, aku tidak mengerti mengapa. Hanya kepalaku semakin berdesing, tidak berhenti berdenging. Aku bingung harus menjawab apa, aku tidak berhenti tertunduk. Sebuah kekalahan yang sebenarnya tidak bisa aku terima. Tetapi sekali lagi, mendengar dia baik-baik saja aku sudah lebih dari bahagia…tentu saja itu berbohong

Dihalaman akhir buku puisi yang lusuh terkena ceceran entah darah siapa, dan kusam karena tanah dan hujan, aku membuka halaman terakhir buku itu. Tulisan halus klasik perempuan dengan huruf latin yang lembut, meluluh lantakkan setiap tulang yang ada di tubuhku.

Langit hanya terlihat tinggi

Hujan hanya terlihat deras

Waktu hanya paradigma

Tuhan yang kuasa

Jika kamboja telah berbunga

Kau bisa apa

Nisan yang kelam tertawa

Memandangku kosong dan bisu

Ketika aku ingin memintamu

Dengan segala lelahku

Aku meminta maaf

Untukmu

Lelaki yang tidak pernah redup berharap

Menghiba sepenuh duka

Selamat malam pemilik nisan

Semoga surga adalah tempat pemilikmu

[Rahardiajeng Ayu Prastiwi]

[9 Agustus 1949]

10 Agustus 1949

Secangkir luka ini masih pekat seperti kopi pagi ini yang menyayat tenggorokan. Kami hanya berharap, perang cepat usai, biar Sapto ketemu adiknya, biar Dewa bisa pulang ke Bali, biar Said bisa bertemu bapaknya, biar Aku bisa bertemu denganmu, Ajeng, dalam mimpi.

“Afscheidsaanval..hari ini..” kataku

“Amunisi habis ndan…” sahut Sapto

Kelihatan bahwa kami sudah sangat lelah, badan kami tidak menuruti keinginan kami, Sapto juga terlihat menahan lelah yang sangat luar biasa.

“Kalian pulang, tak usah perang lagi, ini perintah..” perintahku

“Seenaknya saja Kau..” sahut Said

“Kalian masih punya tempat buat pulang” lanjutku

“Lalu kau mau kemana ndan?” Dewa menyela

“pulang juga..” pungkasku

Hari keempat, 10 Agustus 1949 sebagaimana diperintahkan oleh komandan Wehrkreise I Brigade V, Letnan Kolonel Slamet Riyadi, TNI melaksanakan serangan perpisahan menandai akhir masa serangan umum empat hari. Dengan demikian meningkatkan moril pasukan gerilya TP [ Tentara Pelajar].

Aku berhenti membahas Ajeng, bagiku, sudah selesai. Said memandangku dengan tajam. Mungkin dia sadar aku sudah mengosongkan kembali perasaanku. Tetapi itu tidak sepenuhnya benar, jiwaku masih tertahan di senyumnya, senyum Ajeng.

“Kau tak ingin tahu dengan siapa Ajeng menikah Jun” Said mendekatiku dan berbisik

“Tidak..” sahutku singkat sambil membersihkan sten

“aku bisa antar Kau ke rumah Ajeng hari ini..”

“sudah kubilang..Tidak” sahutku keras

“baiklah..maaf” kata Said sembari pergi

Aku ingin, bertemu dengannya. Bohong aku bilang tidak mau bertemu lagi. tetapi seperti ada yang hancur di dalam sana. Patah hati itu nyata, kawan. Pemantik yang tak kunjung menyala di tengah rintik hujan itu tidak membantu sedikitpun, ragaku, jiwaku sekarang sedingin kabut di lereng Lawu.

Rongga paru-paru ini seperti tidak mau berhenti terbatuk. Sudah tidak aku rasakan. Aku tahu tak akan sampai kepada Ajeng.

Kami memutuskan berpisah, entah kali ini aku sangat ingin berpisah dengan mereka. Tidak seperti biasanya. Setelah berangkulan, kita berpisah. Aku menuju Pasar Nangka. Yang lain menuju Jebres, kemudian pulang. Kami berpamitan dengan buruk, penuh keraguan. Aku tidak perduli.

Tentu aku tidak pulang, aku tidak punya tempat untuk pulang, Ibuku sudah aku ungsikan ke Sumatra, bersama Budhe. Kau tak perlu tahu Bapak, beliau sudah lebih dahulu terkena mortir Belanda di Jagalan. Aku menyisir sisa pos di Pasar Nangka, dekat dengan markas Belanda.

Aku  mendapatkan info sebagai pembalasan atas dibunuhnya 2 anggota KL yang pada malam sebelumnya kami bunuh. Para penjajah Belanda semakin membabi buta. Memaksa keluar rumah baik penduduk lelaki maupun wanita, untuk kemudian membantainya, serta membakar rumah mereka dengan alat penyembur api. Peristiwa ini terjadi di daerah Pasar Nangka. Tercatat 36 nyawa melayang akibat tindakan ini, termasuk 5 wanita dan seorang bayi.

Aku masih ragu, berlari dan bersembunyi sendirian, terkadang batuk tidak dapat aku tahan. Ngilu semakin menjadi ketika nafasku juga mulai tersenggal. Sialan.

Ketika aku sampai di Gading aku masih berlari, belum menemukan satu pun pasukan gerilya. Secara taktis, serangan hari keempat ini berhasil menguasai seluruh wilayah kota.

Pada kesempatan itu, Letnan Kolonel Slamet Riyadi selaku komandan Wehrkreise I (Brigade V/II) memerintahkan kepada Mayor Akhmadi selaku komandan SWK 106, untuk menarik seluruh pasukan ke garis tepi kota, sebagai pelaksanaan ceasefire order, atau gencatan senjata.

 Memang pada kenyataannya pelaksanaan gencatan senjata tidak sesegera itu berlangsung dengan aman. Masih terjadi beberapa insiden yang melibatkan kedua belah pihak yang bertempur. Satu di antaranya berlangsung di sebelah Timur Gapura Gading, berlangsung baku tembak dari arah pos Belanda ke arah 2 anggota TNI.

Satu dari anggota TNI sudah tewas, Aku berlari mengambil jalan memutar mengitari markas Belanda itu. Di ujung gang aku tersungkur, kepalaku berputar, semua kemudian terlihat memutih. Batuk yang sedari tadi tertahan Aku lepaskan, darah mulai mengalir di daguku. Aku terduduk di sebuah gang markas PMI sambil berbisik.

Hari ini adalah hari yang berat

Baru saja aku ditertawakan angin

Lalu datang mendung marah dengan kilat

Aku bilang tidak takut

Lalu hujan bertebaran tersungkur kemudian

Aku bilang aku terjang

Namun rindu itu datang

Dalam catatan anak muda sehabis maghribnya

Menghujam ulu hatinya membuatnya terkapar

Aku bilang belum mati

Nafasnya tersenggal detak nadinya perlahan

Diam

[ 10 Agustus 1949]

Kamis, 11 Agustus 1949

Aku terbangun, di tempat yang sama. Ceceran darah dihapuskan hujan rintik sedari tadi. Baju ini basah kuyup diterpa hujan. Kotor tak beraturan. Aku masih tersenggal, aku kira nyawa sudah pergi berjalan-jalan ke Gading.

02.31, aku melihat sekeliling, sepi. Pasukan Belanda mungkin sudah mundur ke perbatasan. Sudah lewat tengah malam, sudah gencatan senjata aku rasa.

Tiba-tiba terdengar jeritan dari dalam markas PMI, tempatku bersandar. Adalah kediaman Dr. Padmonegoro, ketua PMI cabang Surakarta yang menjadi sasaran serangan itu, saat itu menjadi tempat mengungsi sebagian penduduk sekitar. Aku mencoba berdiri, badanku masih gemetar, namun dipaksakan.

Dari lubang jendela nako aku mengintip ke dalam. Ngeri. Beberapa petugas PMI dibantai dengan sangkur, beberapa pengungsi masih bisa aku lihat tergeletak. Darah berceceran di lantai. Tubuhku lemas, aku melangkah mundur kemudian bersandar lagi di tembok bangunan tua itu.

Gelap, mungkin sekitar 20 orang pasukan khusus Baret Hijau Belanda yang datang dari Semarang. Aku mencoba berdiri lagi. Melihatnya ke dalam lagi, di samping meja di dalam ruangan itu, di dalam barisan aku melihat gadis yang biasa aku kenal. Ajeng.

Entah mengapa dan bagaimana dia bisa sampai disitu. Tanpa pikir panjang aku menuju pintu depan. Tetapi kemudian dihadang klewang besar yang mengkilap.

“Ndan, jangan gegabah..” bisik Sapto seraya menurunkan klewangnya.

“Kau..kenapa tak pulang..?” aku ikut berbisik

“Kalau Kau tak pulang, aku pun juga tidak, mereka juga ndan..” lanjut Sapto

Aku lihat di sekeliling, 6 orang saudaraku di 106 sudah pada pos masing-masing. Aku tidak sempat berbicara banyak, lebih baik menyelamatkan para pengungsi dan dokter-dokter itu dulu. Terutama Ajeng.

Aku maju menuju pintu depan, mengetuk pintu. Setelah pintu dibuka aku dihadapkan dengan seorang tentara yang tinggi besar. Masih di depan pintu.

“Hay! Wat doe je op ons hoofdkantoor? [Hey, apa yang kamu lakukan di kantor kita] “ teriaknya

“Dit is mijn stad [ini adalah kotaku]” jawabku singkat

“Ga voordat we je vermoorden [pergilah sebelum kami membunuhmu]” dia menodongkan pistolnya

“Tchh..Londo bodoh..” aku tertawa sinis

Sebelum tentara itu melanjutkan bicara, klewang Sapto sudah berbicara lebih dulu. Mengkilap darah terkena lampu remang di sudut jalan menghabisi tentara itu. Kami segera merangsek masuk. Kami seperti kesetanan, tentara-tentara itu kita habisi satu per satu.

Suara jeritan masih terdengar dari dalam ruangan, kami tidak tahu kondisi mereka yang masih selamat. Secepatnya kami akan mencoba merangsek masuk, tetapi kemudian suara rentetan Thompson M1 kaliber 45 mengarah kepada kami dari dalam ruangan.

Kasan terkena peluru di paha kanan, sedangkan Dewa tertembak di bagian bahu.

“Sapto, Bakri, tarik mereka ke belakang, bawa ke tempat aman” perintahku

Sementara Said dan Agus masih membalas dengan beberapa tembakan yang ragu. Takut mengenai para sandera.

“Menyerah atau mereka mati” teriak suara dari dalam dengan logat Londonya

Keputusan yang sulit. Tidak ada pilihan. Aku berdiri kemudian membuka pintu ruangan itu, mengangkat kedua tanganku.

“Agus, Kau mundur cari bantuan..” perintah Said kepada Agus

Seketika Agus mundur melompat jendela kemudian menghilang dari pandangan. Aku maju, terlihat 3 orang tentara menodongkan Tokarev TT 33 dan Luger P08, 1 membawa sten dan 1 lagi Thompson M1. Aku berpikir keras bagaimana kita bisa selamat kali ini. Setidaknya aku harus mengulur waktu sampai bantuan datang.

Belum selesai aku berpikir, keningku sudah dihajar menggunakan sten. Kepalaku berkunang-kunang.

“Mana temanmu, kamu suruh mereka menyerah..” teriak Londo didepanku

“Aku sendirian..” jawabku asal

Tiba-tiba sepatu boot tentara mengarah ke dada kananku, aku terjatuh, ngilu yang luar biasa membuatku meringis. Berulang kali tendangan tentara itu membuat rusukku nyeri. Sekilas aku melihat Ajeng, melihatku dari jauh. Kosong. Aku membalas tatapannya dengan senyum tipis sembari menahan ngilu yang luar biasa.

Belum selesai sampai disitu, pistol Luger P08 meletus mengenai paha kiriku. Aku menggeram, peluru panas itu serasa lebih menyakitkan di jarak dekat. Aku sudah pasrah, asal mereka bisa bertahan dan hanya fokus kepadaku. Terlihat sangat heroik sekali batinku.

Pistol itu diarahkan tepat di keningku. Ahh, barangkali aku bisa menahannya lima menit lagi. Tetapi kemudian Said keluar dari persembunyian. Menyerahkan diri, langsung disambut oleh kepalan tinju tentara belanda yang besar. Dia juga terkapar.

“Bodoh Kau, sudah Aku bilang tinju mereka sakit, kau masih datang..” sembari meringis

“Masih sakit tamparan emakku di kampung…” jawabnya datar

“Bicara apa kalian overdome, Levree, kamu cari mereka yang lain..” seru tentara Belanda menyuruh temannya

Paling tidak kondisi para pengungsi dan dokter yang ada di ruangan itu selamat. Tidak masalah buatku dihajar model bagaimanapun. Sejenak kemudian aku mulai bersuara.

“Heyy Said, Kau tahu nama panjang kekasihmu si Ayu…?” aku berteriak kemudian duduk menghadapnya, tanpa memperdulikan tentara Belanda itu

“….” dia diam tidak menjawab

“Aku kasih tahu Kau nama lengkapnya…Rahardiajeng..Ayu..Prastiwi..Kau dengar kah?” aku masih setengah berteriak dan terbatuk-batuk

“Dia gadis manis yang suka membatik di Mangkunegaran. Yang Kau bilang senyumnya bisa menikam seorang lelaki…” aku masih melanjutkan bicaraku

“Dia akan segera menikah Said, jangan Kau dekati dia..”

“dan Kau tahu dengan siapa dia akan menikah? Said Amiruddin, temanku di 106..” lanjutku semakin jelas

Hening kemudian.

Aku mendongak ke atas, ke arah lampu temaram yang kabur mengabur. Benar begitu, ketika aku mengungsikan seorang anak kecil di Mangkunegaran. Aku melihat Said dengan Ajeng. Seketika itu aku mengerti. Butuh waktu terlalu lama untuk menyadari bahwa mereka berdua sudah lebih dulu mengenal sebelum aku. Ternyata Said lebih dulu memiliki perasaan sebelum aku. Lebih dulu saling memiliki daripada aku. Aku benar-benar orang yang bodoh.

“darr..” pistol itu meletus lagi mengenai punggungku, aku tersungkur ke lantai.

Sejak itu aku sadar aku hanyalah bulan diantara bumi dan matahari. Menjadikannya gerhana, gelap dan pekat seperti kopi pagi ini yang tak sempat sedikitpun aku rasakan pahitnya. Dalam kelam aku masih melanjutkan kata-kataku dan berusaha bangkit duduk kembali

“Ajeng, temanku bilang padamu, Dia juga mau..” teriakku setelah duduk

Aku melihat Ajeng tertunduk, menangis. Entah apa yang dia tangisi, mungkin karena kasihan padaku. Lelaki yang lemah, dengan penyakit yang sedang berusaha bermain dengan nyawaku. Aku mulai menyalakan sebatang rokok Nationale yang bercampur darah merah yang membuat pemantiknya susah menyala. Benar kata Ajeng, mungkin aku hanyalah sebuah nisan yang tak bertuan. Mengharap seseorang menaburkan bunga di atasnya.

Bagiku ruangan ini hanya berisi Aku, Ajeng, dan Said. Aku tidak perduli dengan yang lain. Aku hanya berusaha untuk mengulur waktu, menyelamatkan mereka. Luka yang masih bisa aku bawa akan aku bawa serta semuanya bersama asap putih tembakau yang pengap menyusuri rongga paru-paru ini.

“Hey Said…aku bayar lunas peluru yang menjadi hutangku padamu..”

Setelah kata itu aku mengambil sangkur tentara belanda di belakangku, menikamnya hingga tewas. Aku berlari maju sekuat tenaga menerjang tiga orang dibelakang. Dengan panik mereka mulai mengarahkan senjatanya kepadaku.

Bagiku, jiwaku sudah kembali kosong, aku ingin segera mengakhiri kisah ini. Hatiku sudah kembali mati.

“darr..darr..darr..darr..”

Aku berhasil menikam salah satu diantara ketiganya, sisanya ditebas klewang Sapto yang sedari tadi mencari celah di belakang. Ketiga tentara itu tewas. Aku masih bisa berdiri dengan beberapa peluru melubangi tubuhku. Nyala rokok masih sempat aku hisap pelan, kemudian aku rebahkan tubuhku diantara lautan jiwa yang sedang dijemput malaikat.

“Saiddd, aku kembalikan Ajeng sama Kau..” teriakku lantang

Sejenak kemudian, rasanya waktu menjadi pelan, teriakan para pengungsi yang berlarian keluar, Sapto yang tertegun, beberapa mayat para dokter, darah yang berceceran, lampu, asap rokok, dan Ajeng yang bertemu Said. Sebuah anti klimaks yang berada dalam satu frame diantara kedua mataku. Aku tidak lagi memiliki apa-apa selain darah yang terus menerus mengalir, selain nafas yang semakin tersenggal.

Entah apa yang merasuk di hatiku, seperti hampir gelap, hampir terlelap. Diantara rindu, ragu, atau beku. Terlihat hitam dan putih kanvas mulai memenuhi kepalaku. Menghantui sisi gelap diri ini, menepis habis jiwa rentaku.

Orang bilang Tuhan masih ada, tapi Dinda, Aku sendiri tanpa nada.

Teriakan mereka mengabur, pelan kemudian membisu, aku tersenyum lirih. Tergeletak tak berdaya, diantara lautan darah merah yang mewarnai setiap lembar buku puisi kecil ini. Aku rasa masih ada satu halaman terakhir untukku menutup kisah ini.

Dari jendela aku teriak rindu padamu

Pada hujan sore ini, pada daun akasia

Mereka jatuh tanpa cinta seperti telah dilukis langit dengan sengaja

Begitu merdu hingga relung-relung kaca tertawa

Mengiring rintik hujan mengikuti gravitasi

Aku pun begitu, jatuh sejatuh-jatuhnya padamu

Begitu dalam, tenggelam penuh diam tak beralasan

Diantara bermilyar hujan deras aku memilihmu

Di sebuah embun bening kelopak bunga kamboja

Untuk sedetik saja aku berdamai dengan masa lalu

Tidak peduli berapa lorong kota yang aku lewati

Aku masih menunggumu dibawah rindang akasia

Dibawah jingga rintik hujan

Pulanglah untukku

Aku nyanyikan nada riuh rinai hujan

Dengan kota yang aku sebut barat daya

Semesta nampaknya tidak sedang membelaku

Patah awan di ujung nada angin selatan

Aku terendap dalam ujung pandang seseorang

Di ufuk barat sudut nadiku

Masih sibuk menghaturkan sembah segala sujud untuk segala rindu

Hanya itu yang aku punya

Di sudut ruangan

Sebuah kota dengan gadis manis berlangit jingga

Surakarta

[11 Agustus 1949]

[The End]

 

This Story is 50% fiction, 50 % reality.

The Picture for Ajeng Illustration is Dian Sastro Wardoyo.

Poem Originally by writer.

Thank You For Reading

Posted in Story and tagged , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *