Batik Untuk Pembatik, Tidak Semahal Sebuah Proses dan Perjuangan

Kulonuwun Gaes, Sugeng Siang, Selamat Siang.
Barangkali diantara kita sering menemukan batik dengan harga yang sangat mahal. Iya, batik di galeri kita juga mahal. Bukan dengan sebuah alasan mengapa batik di galeri kita mahal. Sudah lihat katalog batik yang baru kami update? Lihat dulu gih, bagus loh, hahaha.

Mengapa batik tulis kami mahal?

Seorang pembatik tulis, bisa menghabiskan waktu lebih dari satu minggu untuk sebuah motif batik. Dan tahukah kalian sebagian besar pembatik tulis terutama di sebuah desa batik di Girilayu, mendapatkan penghasilan yang bisa dibilang sedikit. Oleh karena itu, sebagian besar keuntungan yang didapatkan dari penjualan batik tulis dengan berbagai motif ini akan kita sumbangkan lagi langsung ke pembatik. Ya emang mahal, biar untungnya banyak. Hahaha.
Lalu, mengapa mereka masih membatik, kerja yang lain saja kan bisa
Ibarat seorang petani, ketika mereka tidak mau menanam padi, menanam terong saja terus, kita yang repot tidak menemukan nasi, makan terong melulu. Okelah, bisa makan yang lain. Tetapi mereka, mau tidak mau dan dengan harga berapapun padi saat itu, mereka harus bertani, lah katanya Indonesia negara agraris.
Begitu pula pembatik, mereka mungkin saja bisa bekerja apa saja yang lebih menghasilkan. Tetapi mereka lebih memilih untuk membatik, sekaligus mewarisi budaya leluhur mereka yang sudah lebih dulu membatik. Meskipun harga yang murah, mereka memilih membatik.

“Daripada diklaim negara lain”, kata mereka.

Apa istimewanya batik tulis, malah motifnya lebih rapi batik printing, kan?

Begini, setiap batik tulis memiliki motif yang berbeda, dan pasti setiap batik tulis, meskipun memiliki motif yang sama, bahkan dibatik orang yang sama, hasilnya tidak akan sama. Dan motif itu merupakan sebuah cerita langsung dari tangan seorang pembatik. Bukan dari tangan mesin printing. Lagipula penghargaan UNESCO itu untuk proses pembuatan batik, bukan proses printing batik.

Sayang uangnya membeli batik mahal, mendingan yang murah saja.

Sekali lagi kita tidak memaksa kalian membeli batik dengan harga mahal, silahkan membeli sesuai keinginan. Kami hanya ingin ikut menginspirasi dunia bahwa batik bukan hanya begitu dan begitu. Batik memiliki citarasa eksklusif tersendiri. Batik adalah Budaya Indonesia dan akan kami buat tetap begitu sampai generasi selanjutnya.

Memangnya ketika keuntungan banyak pembatik bisa lebih sukses?

Tujuan kita adalah membuat para pembatik memiliki kebanggaan apabila sebuah batik yang dia buat dengan tekun, dihargai dengan baik oleh dunia. Ketika mereka bangga dengan membatik, mereka akan terus berkarya untuk semakin membuat batiknya lebih berkualitas lagi. Kalau hanya materi mereka pun sudah tahu masih bisa dicari, tetapi sebuah penghargaan terhadap hasil karya mereka adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli. Termasuk jodoh, eh.

Sudah dihargai oleh UNESCO tuh, kurang apalagi?

Batik itu buatan para pembatik, bukan makelar batik, bukan juga admin yang ganteng ini. Iya benar, dan kita terima kasih banyak UNESCO sudah menghargai batik Indonesia dengan sangat baik. Justru itu kami ingin agar muncul orang atau organisasi yang juga menghargai batik seperti UNESCO. Sekarang kami balik bertanya,
Apa tidak malu, dunia saja mengakui bahwa batik kita spesial, batik kita mahal, lalu kenapa kita tidak mampu menghargai hasil karya bangsa sendiri ?

Pemerintah pasti sudah memberikan dana dan pengembangan loh, masih kurang?

Kurang sih tidak, cuma salah target, mungkin iya. Sekali lagi kita jelaskan, kalau para pembatik tidak paham dunia penjualan dan promosi. Mereka hanya tahu bagaimana membuat motif kawung, truntum dan sido mukti. Misal kami, kami mampu menjual batik seharga 1,5 juta dan bilang kepada para pembatik itu hanya laku 500 ribu. Mereka tidak akan komplain, karena pokoknya batik mereka laku dan itu berarti batik mereka bagus.
Bayangkan betapa bahagianya mereka ketika mendapati harga batik mereka di kisaran 1,5 juta dan mereka menerima uang itu sepenuhnya. Kaya mereka boss. Tetapi di lapangan kita tidak menemukan itu, oleh karena itu kami juga ingin sedikit berdedikasi untuk mereka, para pembatik tradisional. Meskipun belum berada pada lingkup yang luas, kami sendiri berharap, bisa menjadi inspirasi untuk tetap menghargai budaya batik Indonesia.

Ketika kami melihat berita kemarin, Jawa Tengah menjadi sentra perkembangan batik, kami sangat berbahagia sekali. Lalu kapan Jawa Tengah menjadi sentra para pembatik? Yang kami inginkan adalah batik dan pembatiknya yang menjadi subjek perkembangan, bukan hanya salah satunya.

Terima Kasih Sudah Berkunjung

Contact kami apabila ingin membeli Batik, belajar membatik, dan ikut mendonasikan sedikit keuntungan untuk menghargai Batik, Pembuatnya, dan Budaya Indonesia

Salam Hangat Indonesian Batik
-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , .

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *