Kisah Cinta Dewi Durga, Ketika Setia Juga Ada Batasnya

Perkenalkan dia adalah Dewi Durga, yang sebelumnya bernama Dewi Parwati atau Dewi Uma yang sangat cantik jelita. Dalam wujudnya sebagai dewi yang ramah dan murah hati, dewi ini disebut sebagai Parwati atau Uma, tapi saat sedang marah dewi ini disebut sebagai Durga. Sebagai Durga, matanya akan melebar, lengannya akan bertambah banyak (delapan atau sepuluh) dan masing-masing akan memegang senjata. Dalam kondisi yang benar-benar mendesak, Parwati mampu merubah dirinya menjadi sosok dewi berkulit hitam dan buas bernama Kaali (Kali).

Tidak seperti pasangan cetar Rama dan Sita atau juga Pandawa, dalam pewayangan Jawa sosok Durga jarang terdengar dan diidolakan. Kalaupun ada yang tahu tentang Durga hanya sebatas kekejamannya memakan manusia atau Dewi yang dipuja para dukun.

Tafsir lain mengisahkan sosok Durga yang sesungguhnya. Sebelum menjadi raksasa perempuan kejam, pemakan manusia dan penghuni dunia mayat Setragandamayit, Durga adalah Uma, istri dari Dewa Siwa atau Batara Guru. Sebenarnya, hubungan pasangan Dewa-Dewi ini baik-baik saja, malahan mesra banget. Sebagaimana cewek yang sedang jatuh cinta kepada pacarnya, apalagi ini sudah menjadi  suami, Uma benar-benar sepenuh hati mencintai Siwa.

Antara egoisme kelaki-lakian atau bisa juga kepo yang sesat membuat Siwa ingin menguji kesetiaan Uma.

“Apa benar Uma cinta sama gue?” demikian di dalam pikiran Siwa.

Sampai suatu hari Siwa pura-pura sakit padahal doi nggak sakit. Uma yang pada dasarnya sayang ke Siwa jadi khawatir dan berupaya mencari obat dan bantuan medis apapun supaya Siwa kembali sembuh tapi Siwanya nggak sembuh-sembuh.

Siwa yang punya rencana lain bilang ke Uma, kalau sebenarnya dia tahu obat untuk kesembuhannya tapi obat itu hanya ada di bumi.

“Kalau buat Kanda Siwa, Dinda Uma bakal melakukan apa saja,” Uma menyanggupi.

Cieeeeeee!!!

Siwa pun menitipkan pesan, kalau obat untuk kesembuhannya adalah susu dari sapi putih. Bukan susu beruang. Setelah mendapat info tersebut, Uma turun ke bumi dan mencari sapi putih. Dalam pencariannya Uma bertemu dengan seorang penggembala sapi putih, yang sebenarnya adalah Siwa yang menyamar. Ribet banget deh, Siwa menguji cinta sampai segitunya. Uma yang nggak tahu kalau lelaki penggembala itu adalah suaminya dengan penuh harap meminta si penggembala untuk menjual sapi putihnya.

“Aku bakal kasih uang, emas, berapapun yang kamu minta, asal aku bisa mendapatkan sapi ini,” harap Uma. Ini Uma juga sedikit oon, emang sapi putih cuman satu doang di bumi apa ya.

Anak penggembala alias Siwa tentu saja ogah memberikan sapi putih tersebut, karena dia punya rencana lain.

“Hmmm…”

anak penggembala alias Siwa sudah menemukan kesempatan untuk menjalankan taktiknya.

“Aku nggak mau uang atau emas…”

“Jadi kamu maunya apa?”

“Aku nggak butuh uang dan emas kamu, aku bakal kasih sapi putih ini cuma-cuma asal kamu mau tidur satu malam dengan aku,” kata anak gembala alias Siwa penuh kelicikan.

“Haaaaaah????” Uma terperangah.

Terkejut. Karena dia bukan Melinda yang terbiasa dengan cinta satu malam. Dan cinta satu malam itu nggak pernah enak dan nggak indah kayak di lagu. Uma berusaha bernegosiasi dengan anak gembala tersebut dengan menjelaskan statusnya yang sudah menjadi istri orang. Si anak gembala nggak mau ambil peduli, hanya itu syarat dari dia yaitu Uma harus bersedia “bobok” dengannya. Atas nama cinta (hmm…tapi cinta nggak seharusnya sebodoh itu ya), Uma pun bersedia tidur dengan anak gembala tersebut. Usai menuntaskan hasrat, anak gembala pun menampakkan dirinya yang asli yaitu Siwa.

“Bwaaaaah! Uma kamu sudah selingkuh!” kata Siwa seenak jidatnya,

Lahhh, yang tidur dengan Uma kan dia juga? Napa dia yang marah-marah.

Uma nggak sempat membela diri, doi ngerasa zonk aja. Mungkin dia berpikir, Siwa nih, rada-rada juga ya. Tapi, apa mau dibilang, menurut Siwa, Uma sudah nggak setia jadi Siwa pun dengan otoritasnya sebagai Dewa mengutuk Uma menjadi Durga, raksasa buruk rupa dengan aroma mayat menyengat. Jangankan untuk membela diri, Siwa bahkan nggak memberi Uma kesempatan untuk menyanyikan lagu Sakitnya Tuh Disini by Cita Citata.

Singkat cerita, Durga harus meninggalkan kahyangan dan menjadi penghuni Gandamayu, sampai akhirnya sesuai dengan suratan takdir, kembar Nakula – Sadewa akan datang meruwat Durga. Memang, setelah bertahun-tahun menjalani hukuman akhirnya Sadewa meruwat Durga, mengembalikannya ke wujud semula yaitu Uma.

Tapi…bagian ini yang membuat kisah Durga menjadi nggak biasa, ketika Siwa meminta Durga yang sudah menjadi Uma untuk kembali ke kahyangan menjadi permaisurinya, Uma menolak, bahkan dia ogah dipanggil Uma,

“Panggil aku Durga.”

Ketika Siwa memohon sekali lagi supaya dia kembali, mengutip Krisdayanti dia bilang,

“Maaf kita putus, I am sorry good bye…”

Menurut cerita, Durga memilih mengembara di dunia ada dan tiada ketimbang harus mengikatkan hatinya kepada laki-laki yang meminta pengorbanan tak masuk akal atas nama kesetiaan.

Kisah ini bukan hanya menjadi pelajaran bahwa setia itu bukan merupakan hal yang harus melewati tes untuk mendapatkan Surat Resmi Kesetiaan. Dalam hidup setiap manusia dibekali akal dan rasa untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah.

Tidak semua kisah cinta berakhir bahagia, tidak semua kisah romantis harus happy ending.

Pesan kecil untuk para lelaki yang sudah memiliki pasangan yang setia.

“Jangan macam-macam kalau tidak mau dimakan Dewi Durga”

Terima Kasih sudah berkunjung dan membaca

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

 

-Special Thanks to Ester P-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , .

3 Comments

  1. bacanya agak ngakak 😂😂, tapi bingung. cerita dewi uma yang jadi kali itu sebelum atau sesudah durga?

  2. Pingback: Wayang Kulit dan Warisan Budi Pekerti Keluhuran Pedalaman Jawa - Indonesian Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *