Motif Batik Jawa Hokokai, Romantis dalam Coretan Batik Kebudayaan Indonesia dan Jepang

Beberapa hari ini Batik Indonesia sedang asik membahas batik pesisir Jawa Hokokai. Batik yang mendapatkan pengaruh jepang dalam motifnya. Untuk semakin menambah khasanah Batik Indonesia, kita akan lebih perjelas mengenai motif Batik Jawa Hokokai. Karena motif batik yang satu ini sangat unik dan berbeda dengan motif batik pedalaman, terutama uniknya motif pagi-sore. Apa yang membuat motif batik Jawa Hokokai ini menarik, langsung saja kita gali lebih dalam.

Setiap karya yang dihasilkan tentu memiliki tujuan yang hendak dicapai, bahkan jenis hiasan yang tertera dalamnya, tidak akan luput dari pengaruh lingkungan sekitarnya. Sebagaimana yang terjadi pada batik Jawa Hokokai, keberadaan motif lereng, bunga, dan kupu merupakan elemen alam yang selalu mendominasi setiap karya seni yang dihasilkan oleh masyarakat Jepang, tetapi motif lain seperti burung dan kawung sebagai latar juga terdapat pada batik Jawa Hokokai.

Semua elemen tersebut juga selalu berada di negara-negara lain, tetapi masyarakat Jepang memiliki pandangan tersendiri terhadap elemen-elemen tersebut. Motif batik tradisional memiliki arti simbolik yang mencerminkan alam pikiran masa lampau, sehingga akhirnya dijumpai suatu kenyataan bahwa berbagai makna simbolik pada kain batik dianggap dapat memberikan harapan bagi si pemakai.

Hal tersebut juga terdapat pada motif batik Jawa Hokokai seperti Kupukupu, bunga, burung, latar lereng, kawung, dan lainlain. Motif-motif inipun memiliki arti simbolik yang terkandung di dalamnya. Adapun ragam hias lain yang ikut dalam batik Hokokai adalah lereng dan kawung. Kemudian Lereng, merupakan motif yang tersusun menurut garis miring/ digonal dan tidak terdapat deretan segi empat yang disebut dengan “mlinjon”.

Motif Kawung, memiliki motif yang tersusun dari bentuk bundar-lonjong atau ellips, susunan memanjang menurut garis diagonal miring ke kiri dan ke kanan berselang seling. Motif bunga yang terdapat pada batik Jawa Hokokai paling sering muncul adalah bunga sakura (cherry) dan krisan, meskipun juga ada motif bunga mawar, lili, atau yang sesekali muncul yaitu anggrek dan teratai.

Motif kupu-kupu yang terdapat dalam motif batik Hokokai, walaupun motif ini bukan berasal dari Jepang namun mendapat pengaruh kebudayaan dari mChina dan sangat diminati oleh orang Jepang. Meskipun kupu-kupu tidak memiliki arti khusus untuk masyarakat Jepang, tetapi orang Jepang sangat menyukai kupu-kupu terutama yang berada di Indonesia, kupu-kupu merupakan lambang cinta abadi dan kesempurnaan seperti dalam cerita Sampek Engtay.

Motif hias yang terkadang muncul adalah burung, dan selalu burung merak yang merupakan lambang keindahan dan keanggunan. Motif ini dianggap berasal dari China yang kemudian masuk ke Jepang.

Penjelasan keterangan gambar adalah sebagai berikut.

1). Kepala/sorot di atas hanya ditempatkan pada salah satu ujung kain, berbentuk lereng dengan perpaduan motif bunga dan daun, serta kupu-kupu kecil. Warna dari motif tersebut adalah merah, violet, kuning , dan hijau.

2). Motif pinggir/susomoyo pada gambar di atas berupa susunan bunga dan daun dengan perpaduan warna merah, hijau, violet, kuning , serta biru.

3). Buket pada gambar di atas berupa rangkaian sulur-sulur bunga, daun, dan kupu dengan 6 buket dengan warna violet, merah, biru , serta hijau.

4). Motif terang bulan di atas dibuat utuh dan yang satunya di buat separo. Untuk motif terang bulan yang separo dibuat dengan rangkaian motif bungabunga kecil berwarna kuning dengan latar berwarna violet. Motif terang bulan yang satunya lagi dibuat utuh dengan rangkaian bunga dan daun berwarna merah, kuning, violet, dan hijau.

Pada gambar di atas buket dalam motif pokok sangat menonjol dengan perpaduan warna harmonis ditambah lagi dengan adanya kupu-kupu terbang, sehingga membuat tampak hidup. Warna dan motif latar sangat mendukung motif pokok.

Batik Jawa Hokokai adalah batik yang dibuat pada masa pendudukan Jepang di Pekalongan. Batik Jawa Hokokai disebut juga dengan nama batik pagisore, karena pola ini merupakan pola pembuatan batik pada kain panjang yang dapat difungsikan untuk dua kesempatan pemakaian pada satu kain. Biasanya sisi kain yang berlatar gelap biasa dikenakan untuk kesempatan pada malam hari, sedangkan satu sisi yang berlatar terang digunakan pada pagi hari. Ciri fisik lain yang terdapat dalam kain batik Jawa Hokokai adalah penampilan garapan detail motif, dan isen yang halus, lembut dan rumit, serta tata warna ganda. Selain itu, memakai latar belakang yang sangat detail seperti motif parang, ceplok, dan kawung, serta menggunakan susumoyo1. Jelaslah bahwa gaya romantisme lebih menitik beratkan pada pencurahan perasaan yang menanggapi fenomena alam dengan emosional tidak menerima kenyataan apa adanya. Dengan demikian, sebagai mana yang terjadi pada batik Jawa Hokokai memunculkan variasi warna yang beragam yang mengantarkan pada suatu keputusan bahwa batik Jawa Hokokai memiliki gaya Romantik.

Adapun dari ketiga fungsi tersebut dalam mengkaji seni batik Jawa Hokokai dilihat dari sejarah dan perkembangannya hingga saat ini jelas memiliki ketiga fungsi baik itu personal, sosial maupun fisik. Walaupun ada perubahan pada penggunanya pada waktu dahulu dan sekarang. Munculnya motif lereng, bunga, dan kupu pada batik Jawa Hokokai merupakan suatu kesengajaan yang muncul akibat pengaruh lingkungan. Penggunakan pewarnaan dengan dibarengi teknik tinggi motif ini menjadi ciri tersendiri dibanding dengan motif yang berkembang di Pekalongan. Dimungkinkan bagi penjajah Jepang yang pada waktu menjajah Indonesia mengalami masa kerinduan akan kampung halaman dan keluarga, juga ikut mendasari atas lahirnya motif yang ada. Hal ini berarti semua motif yang terdapat pada Jawa Hokokai juga memiliki harapan yang baik bagi yang memakainya atas kehidupan yang lebih membahagiakan. Begitu indah batik Jawa Hokokai yang muncul dengan beragam motif flora dan fauna, disusun sedemikian rupa dengan maksud tertentu dengan teknik yang sangat tinggi, sehingga membutuhkan waktu yang relatif panjang untuk menghasilkan sebuah karya yang memilki nilai eksotis yang tinggi. Bahkan darinya muncul beberapa motif baru yang memiliki karakter dan varian tersendiri yang tidak kalah dengan batik tradisi yang ada. Demikian keberadaannya sangat mengangkat kota Pekalongan sebagai kota batik dengan nuansa tersendiri.

Akhirnya selesai juga pembahasan mengenai motif batik pesisir Pekalongan dengan nama Batik Jawa Hokokai. Kami sudah mencoba untuk merekonstruksi kembali bagaimana motif batik Jawa Hokokai itu dibuat. Karena batik tersebut masih langka untuk ditemui.

Terima Kasih Sudah Membaca dan Melestarikan Budaya Batik Indonesia.

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *