Pemakaian Motif Batik pada Pakaian Wayang Kulit Purwa

Haloo kalian semua Indonesian Batik lovers. Bagaimana malam minggu kalian? Kondangan kemana aja?. Maaf kemarin admin lagi malem mingguan, jadi artikelnya kena pending. Sekarang sudah senin saja, hari begitu cepat berlalu sama seperti para mantan yang berlalu. Meskipun hari sudah senin, hati harus tetap malam minggu. Okay kita ke pembahasan langsung saja. Hari ini kita akan membahas pemakaian kain batik pada Wayang Purwa atau wayang kulit.

Wayang Kulit juga sudah menjadi salah satu warisan budaya dunia yang sudah diakui UNESCO dahulu sebelum batik. Hubungannya dengan batik juga sangat dekat, karena pemakaian batik pada tokoh atau karakter wayang kulit purwa memiliki motif yang berbeda-beda. Seperti yang kemarin kita bahas sebelumnya tentang pakaian Werkudara yaitu Kain Poleng Bang Bintulu. Dari wayang kulit dapat kita simpulkan bahwa batik sudah ada sejak wayang dibuat dan diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia.

Pada wayang kulit purwa banyak dijumpai berbagai macam busana tokoh wayang tertentu yang memiliki karakter khusus, dan apabila tata busananya diubah dari tokoh yang memakai, maka akan berubah pula sifat dan karakternya. Pada umumnya atribut-atribut akan selalu ada dalam wayang, sehingga tiap-tiap tokoh wayang memiliki atribut yang berbeda dan menjadi ciri khas dari tiap tokoh.

Busana wayang kulit purwa gaya Surakarta menurut sumber, terdiri dari berbagai tutup kepala, berbagai jenis sumping, berbagai macam bentuk kalung, berbagai macam bentuk uncal, badong, praba, berbagai bentuk ikat pinggang, berbagai bentuk sampir atau sampur. Busana wayang kulit putren dalam khasanah wayang kulit purwa tidak banyak variasinya. Pada gaya Surakarta ujung kainnya menjorok ke belakang, seolah-olah wayang tersebut sedang berjalan dan tidak mengenakan gelang kaki.

Bentuk kain dodot terdiri dari, dodot putren dengan sepatu, dodot putren dengan lungsen, dodot putren dengan kalung ulur, dodot putren dengan kain selimut. Bentuk busana bagian bawah tokoh wayang pria menunjukkan kedudukan tokoh wayang, misalnya raja, ksatria, pendeta atau punggawa. Bentuk busana seorang raja akan tampak lebih mewah dari pada seorang ksatria atau punggawa, busana seorang punggawa dan dewa biasanya berupa jubah berlengan panjang ditambah dengan kethu atau sorban sebagai tutup kepala.

Pakaian yang dipakai oleh karakter wayang berbeda-beda dan semuanya memiliki filosofi dan karakter tersendiri. Mungkin nanti lain waktu bisa kami jelaskan tentang filosofi pakaian wayang di lain waktu. Untuk sementara kita fokus ke batik Indonesia agar batik juga menjadi cinderamata spesial yang bisa didapatkan dari Indonesia.

Terima Kasih Sudah Bersedia Berkunjung

Salam Hangat, Indonesian Batik.

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , .

One Comment

  1. Pingback: Punokawan dalam Wayang Kulit, Perwujudan Karakter Kesederhanaan Orang Jawa Pedalaman - Indonesian Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *