Urutan Proses Membatik, Tradisi Kesabaran untuk Keindahan Karya Seni

Membatik, tidak banyak yang tahu bagaimana urutan prosesnya, bahkan yang sudah mengetahui banyak yang belum paham bagaimana batik itu bisa seindah itu. Tidak mudah, rumit, lama, dan membosankan kelihatannya. Tetapi bagi para maestro batik, semua itu hanyalah omong-kosong, karena membatik itu mampu membuat kita menjadi lebih bisa bersahaja memahami setiap nafas kehidupan lewat batik.

Sekilas intermezzo saja, selamat sore para omnivora, sore ini hujan, rintik seperti motif Udan Liris. Iya masih sama seperti kemarin. Tidak salah, Cuma jadi mellow kalau menulis dengan hujan. Semoga kalian semua selalu sehat dan bahagia di sana. Amin. Terima kasih sudah jalan-jalan ke sini, sudah meluangkan waktu membaca kisah para pembatik.

Hari ini alias today, kita akan membatik, membatik hati melukis mimpi. Cieee. Kita bahas lebih dalam mengenai urutan membatik dari awal sampai jadi pakaian buat kalian ke kondangan, atau malah menikah. Let’s go…Scroll down.

  1. Niat

Iya benar sekali, harus mempunyai niat untuk membatik, karena nanti yang dihasilkan bukan gambar biasa, itu adalah seni yang sangat tinggi filosofinya. Jadi ketika sudah jatuh cinta dengan batik, nanti terasa lebih mudah dalam menghasilkan batik yang berkualitas sampai mancanegara.
c8e04022fa3bf996b8977c76c10fca8f--batik-blogspot-com

  1. Mempersiapkan alat di bawah ini, semuanya bisa didapatkan dengan mudah kalau sudah memiliki niat.

  • Kertas untuk menggambar pola
  • Kain yang akan digunakan untuk membatik. Jenis kain yang dipakai untuk membatik adalah :
  1. Kain Primissima ( Terbaik )
  2. Prima ( sedang )
  3. Belacu ( rendah )
  4. Belacu Abu – abu ( buruk )
  • Wajan

Wajan tidak perlu yang sangat besar karena kita tidak sedang membuat gorengan. Wajan kecil saja sudah cukup.

  • Malam

a
Malam ini bukan malam musuhnya siang. Malam yang dimaksud adalah suatu zat padat yang diproduksi secara alami. Dalam istilah sehari-hari orang menamakannya lilin. Lilin (kandil) sendiri memang dapat menggunakan malam sebagai bahan bakarnya. Malam inilah yang nantinya dicairkan sebagai tinta untuk membatik. Pada dasarnya ada 7 bahan yang digunakan untuk membuat “malam” yang mudah didapatkan di pasar tradisional. Komposisi bisa berbeda dari tempat ke tempat.

Bahan – bahan tersebut adalah :

  • Gondorukem ( sejenis resin dari pohon cemara )
  • Microwax
  • Lemak binatang
  • Lilin kote ( dari sarang tawon )
  • Paraffin
  • Mata kucing ( sejenis dammar )
  • Lilin gladagan ( malam hasil daur ulang dari proses nglorod )

 

  • Canting

Canting itu adalah alat yang digunakan untuk membati, ujungnya terbuat dari tembaga, dan pegangannya menggunakan kayu tertentu. Untuk selengkapnya bisa dibaca disini tentang Canting secara lengkap.

  • Anglo, Kompor atau kayu [yang biasa disebut tumper]

Untuk memanaskan wajan sehingga nantinya malam akan mencair, kemudian bisa dipakai untuk membatik.

 

  1. Ketel [diketeli]

mencuci mori
Kami sendiri bingung ketika menggunakan bahasa Jawa untuk menyebutkan proses membatik, karena susah menemukan bahasa Indonesianya, apalagi bahasa inggris. Penjelasan tentang bagian ini adalah, sebagian perajin batik mengikuti aturan mencuci kain mori dengan ramuan merang dan merebusnya dulu sebelum siap dibatik. Kalangan pembatik menyebutnya diketeli. Selain merang, minyak kacang juga dipakai untuk melicinkan permukaan kain, melemaskan bahannya dan merapatkan benangnya. Di Sukapura, Tasikmalaya, rendam – bilas dilakukan hingga 15 kali sebelum kain dinyatakan layak dibatik.

( Beberapa komunitas batik di Jawa Tengah masih melakukan kemplong untuk melemaskan kain, yaitu memukul – mukulnya dengan palu kayu sampai licin dan lemas.

 

  1. Nyoret [ Menggambar Pola Batik]

membuat desain batik

Nah, lagi-lagi menggunakan bahasa Jawa dalam proses membatik, kalau sekiranya ada yang tidak mengerti, silahkan pm admin, mungkin nanti langsung ditanyakan kepada para pembatik. Ada corak – corak batik tertentu, seperti pola – pola geometris atau cerita, yang membutuhkan proses nyoret sebelum nglowong. Nyoret adalah menggambar pola pada kain dengan pensil. Biasanya para pembatik dan pembuat pola adalah orang yang berbead untuk memangkas waktu produksi. Proses Nyoret tersebut membutuhkan kesabaran dan ketrampilan yang baik untuk menggambar pola dasar yang nantinya akan dibatik, jadi kesalahan pola harus sekecil mungkin dikurangi.

Berbeda lagi dengan para pembatik yang sudah lama menekuni dunia batik, mereka hapal dan ingat betul bagaimana pola kawung, pola kakrasana, pola ukel dan lain-lain. Mereka hapal di luar kepala semua pola itu, karena itulah mereka adalah seorang maestro seni yang luar biasa.

 

  1. Nglowong [ Menggunakan malam untuk melukis pola awal batik]

b

Nglowong adalah tahap pertama pelekatan malam ( lilin ), dengan cap atau canting. Nglowong pada satu sisi kain disebut dengan ngengreng. Sedang nglowong pada sisi kain yang lain disebut nerusi.

Proses Nglowongi ini untuk membentuk outline motif batik. Bagian outline yang tertutup malam/lilin nantinya tidak akan tersentuh oleh warna ketika kain diwarnai. Apabila malam diorot (dikelupas) maka akan menghasilkan warna putih kain, sedangkan kain yang tidak terkena malam akan memunculkan warna sesuai yang diinginkan.

Kami yakin banyak hal yang akan membingungkan sampai di proses ini. Untuk lebih jelasnya nanti akan kami berikan video lengkap dari awal sampai selesai tentang pembuatan batik.

 

  1. Nembok

c

Nembok adalah pengimbuhan malam tahap kedua untuk membuat warna – warna yang tertutup menjadi tegas setelah pencelupan berikut. Malam untuk nembok biasanya lebih liat dan kuat melekat pada kain. Sebuah batikan tidak seluruhnya diberi warna, atau akan diberi warna yang bermacam-macam pada waktu penyelesaian menjadi kain. Karena itu, bagian-bagian yang tidak akan diberi warna (atau akan diberi warna sesudah bagian yang lain) harus ditutup dengan malam. Cara menutupnya seperti cara membatik bagian lain dengan mempergunakan canting tembokan. Canting trembokan bercucuk besar. Orang yang mengerjakannya disebut “nembok” atau “nemboki”dan hasilnya disebut “nembokan”.

 

  1. Bliriki

Bliriki adalah nerusi tembokan agar bagian-bagian itu tertutup sungguh-sungguh. Bliriki mempergunakan canting tembokan dan caranya seperti nemboki. Apabila tahap terakhir ini sudah selesai, berarti proses membatik selesai juga. Hasil bliriki disebut “blirikan” atau “tembokan”. Kadang-kadang batikan tidak perlu ditembok. Apabila pilihannya seperti ini maka batikan sudah selesai sebelum ditembok dan dibliriki. Selanjutnya, bisa dilanjutkan dengan proses pewarnaan.

 

  1. Medel

Pencelupan warna pertama pada kain batik. Pada proses pembuatan batik klasik Pedalaman, medel adalah pemberian warna biru tua sebagai latar dan pemberi bentuk luar pola. Pada batik modern, medel bisa menggunakan warna apa pun karena tidak ada pakem/aturan tertentu.

( Di Banyumas, medel baru belakangan dipraktikkan. Di sana pencelupan pertama menggunakan warna soga, dan dinamakan ketrem. Pencelupan berikutnya warna bebas )

  1. Ngerok atau Nglorot

a7da2286-f0c6-4d8f-b049-917cf34a26f8

Merontokkan malam dengan menggunakan cawuk ( pisau tumpul ), sikat atau alat – alat kerik lainnya disebut ngerok. Bila malam dilepaskan dari kain dengan cara merebus kain, maka prosesnya disebut nglorod.

Menghilangkan lilin secara keseluruhan pada akhir proses pembuatan batik disebut mbabar, ngebyok, atau nglorod. Caranyakain yang sudah dibatik direndam terlebih dahulu kemudian dimasukkan dalam air mendidih yang sudah diberi obat pembantu berupa waterglass atau soda abu. Setelah itu, kain batik dikeringkan dengan cara diangin-angin.

  1. Mbironi

Mbironi adalah pelekatan malam tahap ketiga untuk mempertegas pola. Mbironi hanya menutup bagian – bagian tertentu yang diharapkan tetap berwarna gelap.

 

  1. Nyolet

Nyolet adalah pembubuhan warna dengan kuas pada bagian – bagian kain yang sudah digambar pola dengan malam. Tujuannya memberi efek warna – warni pada kain atau untuk menonjolkan motif – motif tertentu. Proses ini kuat pada batik Pesisiran.

 

  1. Nyoga

BS16-Pewarna-Alami-012

Nyoga adalah pencelupan tahap kedua. Asal kata “soga”, berasal dari nama sejenis tanaman keras yang kulit batangnya digunakan untuk mendapatkan warna cokelat khas batik Pedalaman.

 

Secara umum itulah urutan untuk membuat batik sampai selesai, untuk penjabarannya secara khusus nanti akan kita bahas satu per satu. Tahapan yang cukup banyak dan rumit untuk membuat satu lembar batik, karena itulah mengapa batik sangat mahal apalagi batik tulis yang membuat pola atau motifnya saja paling cepat sekitar 1 sampai 2 minggu.

Kalau kalian ingin langsung belajar untuk membuat batik, kalian bisa berkunjung ke Desa Batik di Solo maupun di Desa Batik Girilayu agar lebih jelas. Silahkan pm admin apabila ingin berkunjung untuk membuat batik desain kalian sendiri.

Terima Kasih telah berkunjung dan membaca artikel tentang tahapan pembuatan batik, sampai ketemu di lain kesempatan.

Salam  Indonesian Batik

-prajnaparamita-

https://web.facebook.com/indonesianbatik.id/

Referensi Berbagai Sumber

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , .

One Comment

  1. Pingback: Batik Tulis Sudah Indah Sejak Sebelum Menjadi Batik - Indonesian Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *