Batik Garutan, Indah dalam Warna Cerah dan Tegas

Kota Garut terletak pada ketinggian 700 meter di atas permukaan laut, dikelilingi deretan gunung Papandayan, Cikuray, Guntur, dan Karacak. Lokasinya yang permai menjadikan Garut tempat peristirahatan pilihan kalangan Belanda pada masa pendudukan.

Zaman dahulu kala, pemerintah Belanda membangun jalur kereta api ke wilayah selatan pulau jawa, termasuk membangun stasiun Cibatu Garut bertujuan untuk mengangkut hasil perkebunan tanah pasundan yang melimpah. Garut juga pernah menjadi wilayah penting sebagai pemasok logistik angkatan perang Kerajaan Mataram pada masa pemerintahan Sultan Agung dalam penyerangan ke Banten dan Batavia yang saat itu dikuasai VOC. Diduga pada masa inilah tradisi membatik di bumi pangirutan dimulai.

Berdasarkan cara pembuatannya, batik garutan terbagi menjadi empat jenis yaitu batik tulis, batik cap, batik kombinasi tulis dan cap, dan batik lukis. Apabila batik tulis menggunakan canting pada proses penempelan lilinnya, maka pada proses pembuatan batik cap digunakan cap batik yang terbuat dari tembaga. Sedangkan batik kombinasi tulis dan cap memadukan canting dan cap batik pada proses pembuatannya. Adapun pada pengerjaan batik lukis, batik ini menggunakan kuas dan alat-alat lukis lainnya dengan tetap menggunakan lilin sebagai media perintang warnanya.
IMG_20170227_114440_713-571x640

 

Batik Tulis Garutan memiliki ciri khas dominasi warnanya yang cerah, terang, dan beragam. Warna ini mengungkapkan kebahagiaan seperti warna gumading (putih gading), biru, merah, hijau, coklat kekuningan, ungu, merah muda (kayas), ungu muda (gandaria), dan kasumba.
Sebenarnya ada warna sogan (coklat), seperti pada batik di Solo atau Yogyakarta. Perbedaannya, warna sogannya coklat muda kekuningan, ciri khas yang kuat dari batik Garut.

Berbeda dengan batik Solo atau Yogyakarta yang syarat dengan makna filosofis, motif  batik Garut lebih ditekankan pada segi visual. Umumnya bentuk motif Batik Garutan merupakan cerminan dari kehidupan sosial budaya dan adat istiadat orang Sunda, khususnya di Garut, serta pola flora dan fauna.

20170228_105437-640x463
Kekayaan flora dan fauna wilayah ini terbukti terus menerus membangkitkan puji – pujian pada alam oleh masyarakatnya, seperti yang terlihat pada karya – karya seni rakyat tradisional setempat seperti batik tulis. Beberapa motif khas Garutan misalnya yang tergambar dalam motif Rereng Pacul, Rereng Peuteuy, Rereng Kembang Corong, Rereng Merak Ngibing, Cupat Manggu, Bilik, dan Sapu Jagat, yang masing-masing memiliki keunikannya sendiri.

Karena prosesnya yang cukup rumit, pembuatan batik Garutan memerlukan waktu yang cukup panjang. Untuk membuat sehelai kain batik dengan motif sederhana saja, diperlukan waktu sekitar 1 minggu. Pembuatan batik Garutan bisa memerlukan waktu hingga berbulan-bulan jika motif yang dibuat sangat sulit.

Tradisi membatik dan usaha batik di dalam masyarakat Garut berlangsung turun – temurun. Walau demikian, popularitasnya baru mencuat setelah tahun 1945 sehingga muncullah istilah Batik Garutan.

Namun masa kejayaannya terjadi jauh hari kemudian, yaitu pada pertengahan tahun 1960-an dan 1980-an. Gaya batik Garutan yang khas adalah corak – coraknya yang tegas serta warna kekuningannya yang khas, yaitu gumading. Secara keseluruhan lebih ceria karena memasukkan warna – warna seperti ungu, hijau dan merah.

 

Salam Hangat Indonesian Batik

-Prajnaparamita-

 

https://web.facebook.com/indonesianbatik.id/

Referensi  http://leonisecret.com

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *